Thursday, September 12, 2013


Wisata Keluarga ke Singapore-Malaysia (part 1)

Ternyata untuk ke luar negeri itu tidak semudah yang dikira. Setelah membuat paspor untuk bunda dan anak2 sejak April tahun lalu, perburuan tiket murahpun saya lakukan. Pertama mencari tiket dari maskapai-maskapai “eksekutif” seperti Singapore Airline, Malaysian Airline, Thai Airways dan Garuda Indonesia, akhirnya saya menyerah karena budget yang terbatas. Pilihanpun dibelokkan ke Jetstar, Tiger airways dan Air asia yang dikenal sebagai maskapai budget.  Masalah kedua adalah, bukingnya selain air asia harus menggunakan kartu kredit. Beuh!. Akhirnya huntingpun selesai dengan booking air asia tgl 4 dan 6 februari 2013. Pemesanan ini nekat saya lakukan dengan pikiran, kalo tidak sekarang kapan lagi? Dengan tabungan cekak dan modal nekad saya beranikan beli airasia. Saya blm memikirkan masalah disana mo ngapain, nginep dimana. Dapatlah air asia PP dengan harga Rp3,1 juta.

Perburuan pertama selesai, selanjutnya bagaimana ya menginapnya? Dimana ya? Disela-sela kesibukan kantor saya cari info hotel murah via agoda, tripadvisor, booking.com. Awal mencari hotel murah saya melihat hotel di daerah geylang tarifnya miring. Namun setelah browsing sana sini, saya baru tau kalau geylang itu adalah red distrik (daerah maaf pelacuran terkenal di Singapore). Akhirnya saya menghubungi saudara saya di Singapore untuk lebih meyakinkan tempat yang saya inapi adalah daerah yang aman di Singapore. Bukan apa-apa, karena saya membawa anak-anak saya yang masih kecil. Setelah ngobrol sana sini akhirnya saya disarankan ke hotel 81 bencoolen. Daerah downtown katanya. Dekat mau ke mana-mana. Saya sih percaya saja dengan saran keponakan saya. Dan ternyata masalah selanjutnya adalah, saya kebingungan cara membayarnya. Sebagai pemakai kartu kredit newbie saya baru tau kalo kemaren saat saya membayar kamera canon 1100D dengan cara cicilan kartu kredit, ternyata pagu CC saya di freeze sebesar harga beli kamera. Walhasil, kredit sayapun mepet limit dan tidak cukup untuk membayar hotel. Tidak putus asa, saya berusaha membayar lewat muamalat visa gold dan gagal…karena (saya juga baru tahu) kalo visa di muamalat hanya bs dipakai transaksi on the counter, tidak bisa untuk transaksi onlen…huhuhuhu…padahal salah satu pertimbangan saya mengambil muamalat gold ini karena supaya saya bisa melakukan transaksi debit visa onlen. Tak putus asa, saya coba debit card BNI, BRI, BCA, semua gagal…saya mulai panic, karena tanggal 10 Februari adalah imlek, kalo tidak booking segera maka kemungkinan besar saya tidak memperoleh hotel atau kalopun mendapat hotel harganya akan selangit. Bahkan saya sempat mendaftar paypall, kalo-kalo bisa dibayar menggunakan paypall. Ternyata untuk mengisi akun paypall kita, kita harus punya akun bank di USA, hadeuhhh…Untuk mengantisipasi itu saya menoleh ke johor bahru, Malaysia. Disana harga hotel dengan bintang yang sama bisa hanya 50%nya, tapi ya itu, waktu banyak kebuang di jalan kalo  waktu kita lebih banyak dihabiskan di Singapore. Hotel yang saya lihat adalah citrus hotel yang menurut keterangan di agoda, letaknya hanya seberang jalan Johor Bahru Central tempat imigrasi cek di Malaysia. Sambil melihat-lihat hotel lain saya kembali mencari informasi di internet apabila pembayaran hotel dilakukan dengan kartu kredit saudara saya, apakah nanti bermasalah saat cek in mengingat saudara saya tersebut tidak ikut dalam perjalanan ini. Akhirnya saya kirim email ke agoda dan mendapat jawaban bahwa hal itu tidak mengapa, yang diperlukan hanya anda membayar lunas hotel tersebut, that’s all. Namun keraguan sempat kembali menghinggapi saya saat mengeprint voucher agoda. Disitu tertulis bahwa, “ saat cek in harus menunjukkan kartu kredit yang digunakan untuk pemesanan dan kartu tanda pengenal dengan foto yang valid dan nama yang sama, jika tidak dapat menunjukkan maka kemungkinan akan diminta pembayaran tambahan oleh pihak hotel atau bahkan pemesanannya tidak diakui”. Untuk meyakinkan, kembali saya hubungi agoda, sambil menyampaikan apa yang ada di note-nya agoda. Kemudian pihak agoda menyarankan saya untuk membawa foto copi kartu kredit dan id card saudara saya untuk jaga-jaga apabila pihak hotel memintanya. Singapura gitu looh…yang di otak saya Cuma keteraturan dan ketertiban. Selesai sudah booking hotel, saya juga mencari informasi kalau-kalau kami berempat tidak boleh sekamar. Dari referensi yang saya dapatkan, kalo anak kecil mah katanya nyantai aja…mereka tidak begitu strik kalo untuk anak kecil, lain halnya kalau anak yang anda bawa sudah dewasa. Anak-anak saya masih berumur 3,5 tahun dan 6,5 tahun.  Selesai??

No comments: